Hanya karena hal sepele aku bertengkar dengan Mama dan kabur dari rumah. Aku pergi ke tempat kos yang aku tinggali. Aku terus di sana tanpa kabar. Papaku mengirimiku pesan bertubi tapi aku berbohong dengan mengatakan aku menghadiri rapat OSIS.
Tiga hari kemudian, tepatnya tanggal 13 Juni 2019, aku pulang karena terus merasa bersalah. Mama masih tidak mau bicara padaku. Aku masih tidak meminta maaf sampai keesokan harinya, Papa menyuruhku untuk minta maaf kepada Mama. Aku memberanikan diri meminta maaf sore harinya, dan mama memaafkanku. Setelahnya, kehidupan berjalan seperti biasa.
Tanggal 22 Juni 2019. Aku memainkan ponselku di ruang TV. Saat itu Mama sedang memotong kain untuk mengerjakan pesanan jahitannya ketika setelahnya, Mama merasakan tangan kirinya sakit. Seperti kesemutan, katanya dan mengaggap itu adalah hal yang biasa. Ia lalu memutuskan menyelesaikan pekerjaannya. Malam harinya, tangan kirinya masih sakit dan berbaring di kamar. Namun beberapa jam setelahnya, ia mengatakan tangannya sudah sembuh. Pun esoknya, ia bahkan mengangkat tumpukan piring untuk membantu acara syukuran di rumah. Tak ada yang menyangka, bahwa kejadian itulah awal mula dari kemunculan penyakit ganas yang menyebabkan kematian Mama.
Harusnya, aku harus pergi ke sekolah tanggal 17 bulan itu karena hari libur sudah berakhir. Namun, karena hari libur akan dilanjut satu minggu setelahnya, aku memutuskan untuk bolos karena pikirku pasti berangkat sekolah saat itu hanya menghabiskan waktu. Mama dan Papa sempat mengajakku ke kos yang terletak di kota, tapi aku menolak dengan alasan nanti saja masuk sekolahnya. Mama dan Papa akhirnya pergi berdua ke kota untuk berjalan-jalan. Malamnya, aku pergi ke minimarket dekat rumah dengan adikku.
Sesampainya di rumah kembali, kulihat mobil sudah terparkir menandakan kedua orang tuaku sudah pulang. Aku pun memasuki rumah dan memainkan ponsel di ruang TV. Papa saat itu berkata bahwa tangan Mama kembali sakit seperti dua hari yang lalu, tapi aku hanya menganggap itu hanyalah sakit biasa mengingat sakit itu hilang dengan cepat sebelumnya. Kali ini, sakitnya menimpa tangan kanan, bukan tangan kiri.
Saat itu kondisi tangan Mama makin parah beberapa jam kemudian. Ia bahkan hanya bisa berbaring lemah di atas kasurnya. Aku berpikir bahwa itu hanyalah kerusakan saraf kecil di tangannya karena terlalu giat menjahit. Malam itu pukul 9, dengan ditemani aku, Papa, dan dua Bibiku, Mama memutuskan untuk ke rumah sakit.
Perjalanan menghabiskan waktu tidak lebih dari satu jam. Mama langsung dilarikan ke IGD. Aku melihat Mama yang terbaring di atas ranjang IGD, matanya tertutup sambil terlihat menahan sakit. Aku tidak menyangka akan separah ini. Aku dan yang lainnya menunggu di sana selama 15 menit, sampai kemudian seorang dokter wanita datang dan menusuk jarum suntuk ke tangan mama. “Kemungkinan stroke,” ungkapnya singkat. Mama sudah tidak sadarkan diri.
Stroke, penyakit yang tak pernah kupikirkan akan menimpa mama sebelumnya.
Aku merasakan pusing dan mual setelahnya. Akhirnya, Papa memutuskan mengantarkanku pulang. Mama dijaga oleh dua Bibiku dan dikabarkan sudah memasuki ICU. Aku meninggalkan rumah sakit dengan perasaan hancur. Tak terhitung berapa air mata yang sudah menetes kala itu.