Rendah Hati Tidak Akan Mengurangi Apa yang Kita Miliki

Rendah Hati Tidak Akan Mengurangi Apa yang Kita Miliki
ilustrasi: redaksiindonesia.com
Hindari Mengangkat Diri Sendiri
Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab orang menjadi sombong. Antara lain, karena:
  • merasa diri kaya
  • menduduki jabatan penting
  • merasa diri orang penting
Untuk mengenal orang yang tinggi hati, tidak perlu lulus sarjana psikologi. Sebab hanya dengan memperhatikan tutur kata dan bahasa tubuh yang dikedepankan, maka dalam hitungan detik kita sudah menilai sombong tidaknya seseorang.
Pada umumnya, orang yang sifatnya sombong tidak mau kalah dari orang lain. Selalu mau menjadi pusat perhatian  orang lain.
Misalnya, bila ada di antara sanak keluarga atau teman-temannya, yang mengadakan acara pernikahan, ia yakin pasti akan diundang. Maupun dalam acara apa saja namanya harus tercantum dalam undangan, karena merasa diri orang penting. 
Terbawa hingga Sudah Bukan Lagi Pejabat
Sifat merasa diri orang penting ini, akan terbawa hingga tidak lagi menjadi pejabat. Banyak pejabat yang sudah pensiun, tapi kebanyakan masih saja berharap orang akan menyapa dirinya di manapun ia berada. Selalu mau dihargai orang lain, lupa bahwa selama ini, orang bersikap hormat kepada dirinya, hanyalah karena dirinya masih menjadi pejabat.
Kami pernah mengenal seorang pejabat setingkat Kakanwil di Sumatera Barat yang dikenal sebagai sosok yang angkuh dan tidak menghargai orang lain. Bila ada keperluan dan datang ke kantornya, sikapnya sangat arogan dan berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke wajah kita.
Ketika tiba waktunya pensiun, ia harus pindah dari rumah dinasnya ke Jakarta. Tapi walaupun sudah pensiun, ia selalu tampil dengan pakaian dinas lengkap seakan-akan masih menjadi pejabat.
Keluar rumah bersama sopir pribadi di pagi hari dan pulang sore hari untuk memberikan gambaran pada tetangga, seakan-akan dirinya masih menjadi pejabat. 
Sikap Rendah Hati Menghindarkan Kita Dari Rasa Kecewa
Kalau kita sudah membiasakan diri hidup dengan rendah hati, walaupun mungkin saja kita memiliki kelebihan dari orang  lain, maka di manapun kita berada, kita bisa menikmati hidup dengan nyaman dan tanpa beban.
Bilamana ada tetangga atau teman-teman yang menikahkan anak mereka dan kita tidak diundang, sama sekali tidak menyebabkan kita berkecil hati, apalagi sampai kecewa dan sakit hati. Tapi kalau diundang, tentu saja kita akan berterima kasih.
Cuplikan Pengalaman Pribadi
Tahun lalu, salah seorang keponakan saya dan suami yang akan menikahkan putranya di Melbourne. Kami tidak berharap akan diundang karena keponanakan kami tahu bahwa kami tinggal jauh dari Melbourne, yakni di Western Australia.
Tetapi ternyata keponakan kami menelepon, untuk menyampaikan undangan kepada kami berdua. Bahkan untuk menunjukan bahwa dirinya sangat berharap kehadiran kami, keponakan kami memberitahukan bahwa selama dua hari di Melbourne, sejak mulai dari penjemputan di badara dan kamar untuk menginap, transportasi dan konsumsi untuk kami berdua sudah dipersiapkan. 
Nah, kalau yang mengundang sudah begitu serius menyampaikan harapannya agar kami berdua datang, tentu saja kami sangat senang bisa hadir dalam acara pernikahan tersebut. Alangkah senangnya kami karena tidak merasa wajib diundang tapi mendapat undangan dengan penginapan sekalian itu menandakan kita masih dipedulikan.
Satu contoh lagi 
Keponakan kami yang lain, merencanakan akan menikahkan putrinya pada tahun 2020 ini di bulan Oktober. Dari sejak dua bulan lalu, yakni jauh-jauh hari sudah menelepon kami supaya kami mau hadir dalam acara pernikahan anaknya. Walaupun kami belum tentu bisa hadir, karena acara pernikahan dilangsungkan di Jakarta, tapi kami sangat senang.
Hubungan Interaksi dengan Lingkungan
Begitu juga, suatu waktu adalah sebuah kejutan. Tiba-tiba kami diundang untuk hadir dalam acara yang diadakan di kantor Konjen RI di Perth. Hal yang sama sekali tidak disangka-sangka kami dapat kehormatan diundang ke acara di Konjen RI. Karena kami berdua hanyalah WNI dari sekian ribu orang Indonesia, yang juga domisili di Perth. 
Ketika kami tiba, sengaja dalam acara tersebut kami duduk di baris paling belakang. Tapi kemudian diajak staf Konjen untuk maju ke depan di baris paling depan.
Tentu saja sebuah surprise bagi kami berdua, mendapatkan perhargaan begitu besar. Padahal kami berdua bukan pejabat dan juga bukan orang penting, melainkan hanya sepasang kakek dan nenek.
Kondisi ini akan sangat berbeda, bilamana ketika tiba di Kantor Konjen RI, karena merasa diri orang penting dan kami duduk di baris paling depan, tapi kemudian diminta pindah ke belakang. Tentu saja akan menyebabkan rasa malu, bahkan mungkin sakit hati.
Karena itu,dengan  memiliki rasa rendah hati, kita akan terhindar dari rasa tersinggung ataupun kecewa. Percayalah, rendah hati tidak akan mengurangi apapun yang ada pada diri kita.
13 Pebruari 2020
Salam saya,
Roselina.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel