Kabar Terbaru Vaksin Corona Sinovac yang Akan Dipakai di Indonesia

 

Seorang pekerja bekerja di fasilitas pengemasan pembuat vaksin Sinovac Biotech. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Vaksin Corona Sinovac asal China menjadi salah satu kandidat vaksin corona yang akan dipakai Indonesia. Vaksin Sinovac sedang menjalani uji klinis tahap III di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.

Uji klinis tersebut melibatkan 1.620 relawan. Bio Farma, perusahaan BUMN yang akan memproduksi vaksin Sinovac, menyebut, seluruh relawan telah menjalani suntikan pertama. Vaksin corona Sinovac merupakan strain virus yang dimatikan, sehingga butuh dua kali penyuntikan ke tubuh manusia.

Apa saja kabar terbaru soal vaksin Sinovac saat ini?

Ilustrasi vaksin corona dari Sinovac. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Vaksin Sinovac Ada yang Bisa untuk Usia 3 Tahun ke Atas

Vaksin Sinovac yang akan digunakan di Indonesia hanya untuk usia 18-59 tahun. Selama ini, uji klinis III di Bandung dilakukan untuk relawan dengan batas usia tersebut.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad, Prof Kusnandi Rusmil, mengakui Sinovac bakal memproduksi vaksin untuk orang berusia di atas 3 tahun. Namun, jenis vaksin itu belum dipesan Indonesia.

"Sinovac ada yang untuk umur lebih dari 3 tahun. Uji kliniknya sedang berjalan, selesainya November, " kata Kusnandi.

Oleh karenanya, Kusnandi menyarankan pemerintah segera memesan vaksin tersebut.

"Vaksin yang itu bisa dibeli oleh pemerintah kita, tapi bukan yang dibuat Bio Farma," tutur dia.

Ilustrasi vaksin corona dari Sinovac. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Belum Ditemukan Indikasi yang Hambat Uji Klinis III Vaksin Sinovac

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengungkapkan, uji klinis III sejauh ini berjalan lancar. Tak ada relawan yang merasakan efek samping serius.

"Sampai sejauh ini alhamdulillah belum ditemukan indikasi-indikasi yang menghambat uji klinis ini. Dan kami optimis uji klinis ini selesai bulan Januari 2021," tutur Honesti.

Kusnandi sebelumnya menyebut, efek samping yang dirasakan relawan bersifat normal. Yakni demam hingga kulit memerah dengan batas wajar --selayaknya anak disuntik vaksin.

Setelah uji klinis III selesai, Bio Farma dan FK Unpad akan bertukar data dengan negara lain yang juga melaksanakan proses yang sama. Tak hanya di Bandung, uji vaksin Sinovac dilakukan di 4 negara lain, yaitu Brasil, Turki, Chile, dan Bangladesh.

Setelah hasil uji klinis lolos evaluasi, BPOM akan mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA).

Ilustrasi vaksin corona dari Sinovac. Foto: Tingshu Wang/REUTERS

BPOM Tak Temukan Efek Serius Vaksin Sinovac

Direktur Registrasi Obat BPOM, dr Lucia Rizka Andalusia, telah menginspeksi proses uji klinik vaksin Sinovac di Bandung. Sejauh ini, BPOM tak menemukan efek serius.

"Tanggal 16 Oktober kemarin, kami juga melakukan inspeksi dan sudah selesai direkrut 1620 subjek. Dari beberapa kegiatan inspeksi uji klinik yang kami lakukan, kami tidak mendapat laporan serious adverse event (reaksi merugikan yang serius)," kata Lucia.

Tim Inspektur Badan POM melakukan inspeksi pelaksanaan uji klinik vaksin Sinovac di Puskemas Garuda dan Puskesmas Dago, Bandung, Jumat (16/10). Foto: BPOM

Pengembangan Vaksin Sinovac Hanya Setahun karena Darurat Pandemi

Pembuatan vaksin biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan hingga 15 tahun. Namun vaksin corona Sinovac dikebut sekitar 10 bulan karena kebutuhannya mendesak.

"Biasanya kalau kita membikin vaksin itu cukup lama, tapi oleh karena ini pandemi, jadi akan dilakukan EUA (Emergency Use Authorization) yang cepat sehingga BPOM menentukan kalau bisa secepatnya, dan WHO juga minta cepat-cepat," kata Kusnandi.

"Sehingga yang biasanya 15 tahun, kita bikin cuma 10 bulan, setahunlah, kurang lebih, karena sangat dibutuhkan," imbuhnya.

Kusnandi memastikan Bio Farma memiliki track record yang baik, termasuk dalam memproduksi dan menjualnya hingga ke luar negeri.

Jokowi Tinjau Fasilitas Produksi Vaksin Corona di Bio Farma. Foto: Dok. Setpres RI

Tim Riset Unpad Tegaskan ADE Tak Ada di Vaksin Corona, Sudah Diuji Negara Lain

Kusnandi menegaskan tidak ada fenomena antibody-dependend enhacemen (ADE) dalam vaksin corona. Guru besar FK Unpad itu memastikan sejauh ini ADE hanya pernah terjadi di kasus demam berdarah.

ADE adalah fenomena reaksi ketika pemberian antibodi (berupa vaksin atau lainnya) menjadi tidak efektif dan malah memperkuat infeksi sehingga muncul suatu kejadian imunopatologis berat.

"Fenomena ADE adalah fenomena yang terjadi kalau kuman penyakitnya itu mempunyai antigen lebih dari satu. Kan kalau dari virus COVID-19 ini antigennya satu. Dan ADE ini hanya terjadi pada waktu itu di virus demam berdarah," ujar Kusnandi.

Vaksin Sinovac juga diuji di negara lain. Menurut Kusnandi, dari laporan yang ia terima, belum ada negara lain yang melaporkan fenomena ADE dalam vaksin Sinovac.

"Dari pengalaman uji klinis yang ada, Brasil sudah ada 9 ribu subjek yang dilakukan uji klinis, UEA 31.500 subjek, Indonesia 1620 subjek, sampai sekarang belum terjadi ADE. Dari laporan yang ada, belum terjadi ADE," imbuh Kusnandi.

Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Prof. Kusnandi Rusmil. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Mutasi Tidak Ubah MorfologiVirus Corona, Vaksin Masih Berefek Baik

Dalam 10 bulan terakhir, virus SARS-CoV-2 sudah bermutasi. Namun, mutasi tersebut tidak mengubah morfologi virus secara keseluruhan. Sehingga, Kusnandi menegaskan tidak akan memengaruhi efektivitas vaksin.

"Sehingga vaksin yang akan dibuat masih punya efek yang baik," kata Kusnandi.

Berbagai negara seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat, sudah mulai meneliti mutasi virus corona ini. Vaksin-vaksin yang tengah dibuat bisa dipastikan masih bisa digunakan meski virus ini sudah bermutasi.

"Jadi itu tetap bisa, enggak masalah dan belum terjadi perubahan besar yang akan mengubah morfologi virus itu. Virus itu tetap disebut dengan virus corona, berbeda dengan influenza," tutur Kusnandi.

Infografik Vaksinasi Corona di RI Mulai November 2020. Foto: kumparan
Artikel Asli

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel