Viral, Foto Fotokopi Kartu Keluarga Jadi Bungkus Nasi, Ini Imbauan Dukcapil

 

Twitter
Beredar viral foto fotokopi KK menjadi bungkus nasi kucing. Hati-hati, data pribadi bisa bocor!

KOMPAS.com - Di media sosial Twitter, beredar viral sebuah foto yang menunjukkan bungkus nasi kucing menggunakan fotokopo Kartu Keluarga atau KK.

Unggahan ini pun ramai diperbincangkan warganet di media sosial Twitter, Minggu (9/5/2021).

Foto itu diunggah oleh akun Twitter Muhammad al-Kenzo, @faizaufi. 

Hingga Minggu (9/5/2021) malam, unggahan foto itu telah dibagikan ulang lebih dari 8.000 kali, dan disukai lebih dari 23.000 pengguna Twitter lainnya. 

Tidak hanya fotokopi Kartu Keluarga, sempat beredar fotokopi KTP yang dijadikan bungkus nasi.

Hal ini menjadi perhatian karena dokumen itu menyimpan data pribadi yang sangat penting dan rawan disalahgunakan.

Imbauan Ditjen Dukcapil

Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Zudan Arif Fakrulloh mengingatkan, penyebaran data pribadi harus diberantas secara bersama.

Menurut dia, penggunaan fotokopi KK atau KTP sebagai bungkus makanan hanya sebagian kecil data yang tersebar. 

"Yang di nasi bungkus atau bungkus kacang itu hanya minor saja. Lebih ngeri lagi penyebaran data di internet," ujar Zudan saat dihubungiKompas.com, Minggu (9/5/2021).

Ia mengatakan, ketika kita melakukan pencarian di mesin pencari Google dengan kata kunci " KTP elektronik, NPWP, rekening bank, nomor handphone dan membukanya di fitur "image/gambar", maka akan keluar puluhan ribu data pribadi warga di Indonesia.

Yang memprihatinkan, kata Zudan, tak ada sensor pada dokumen-dokumen penting tersebut.

"Itu tak cuma di Indonesia, di luar negeri juga banyak. Coba saja ketik ' ID card USA, ID card Swiss, ID card Netherland', Anda akan mendapatkan gambaran dari perlindungan data pribadi," ujar Zudan.

"Jadi, tidak melihat seolah-olah Indonesia kayak begitu. Itu ada berapa juta kartu elektronik yang terpampang," lanjut dia.

Jangan unggah dokumen pribadi!

Ia mengatakan, perlindungan data pribadi menjadi pekerjaan rumah besar bagi masyarakat dan pemerintah.  

Sebab, kejadian ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

"Inilah yang dibutuhkan masyarakat dan negara yang mengolah rahasia data pribadi dan yang muncul di dunia maya itu harus di-take down," ujar Zudan.

Menurut dia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang berwenang untuk men-take down foto-foto yang menampilkan data pribadi secara bebas di dunia maya.

Zudan juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menyebarkan data pribadinya di media sosial maupun aplikasi percakapan.

"Jadi, bukan hanya selembar untuk bungkus kacang goreng atau nasi, di dunia maya itu ada jutaan data pribadi kita dan orang-orang tidak peduli," lanjut dia. 

Jika data pribadi tersebar di dunia maya, hal ini berpotensi menimbulkan penyalahgunaan di fintech.

Misalnya, penagihan pinjaman online (pinjol), padahal orang tersebut tidak pernah meminjam uang sama sekali di leasing tersebut.

"Orang enggak pinjam duit, datanya diambil dari KTP, NPWP, ijazah palsu, rekening bank, kartu kredit, dan lainnya, semua ada kok di internet," ujar Zudan.

Oleh karena itu, Zudan mendorong masyarakat dan pemerintah untuk membangun kepedulian terhadap perlindungan kerahasiaan data pribadi baik bagi masyarakat, lembaga yang menyimpan data pribadi, maupun lembaga penggunaan data.

Jika menemukan data pribadi seperti untuk bungkus makanan, sebaiknya langsung disobek kecil-kecil dan dibuang ke tempat sampah.

Atau, bisa juga dengan membakar kertas berisi data pribadi tersebut. 

Penulis: Retia Kartika DewiEditor: Inggried Dwi Wedhaswary

Artikel Asli

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel